Wakil Afrika Mendominasi Piala Arab FIFA 2021

Para wakil Afrika tampaknya masih mendominasi ketimbang wakil Asia di ajang Piala Arab 2021 dengan lolosnya tiga tim Afrika ke semifinal. Kompetisi regional di jazirah Arab yang juga merupakan turnamen ujicoba Piala Dunia 2022 ini sudah mendekati babak terakhir usai dua pertandingan semifinal digelar pada tanggal 15 Desember yang lalu dimana dua wakil Afrika, Aljazair dan Tunisia bakal bertemu di babak final yang akan digelar sabtu besok, 18 Desember 2021. Pasang taruhan anda untuk partai final Piala Arab 2021 di link alternative m88.

Tiga Wakil Afrika di Semifinal

Tiga tim Arab Afrika, Aljazair, Mesir dan Tunisia berhasil tampil di babak empat besar. Sementara tim Arab Asia hanya diwakili tuan rumah Qatar. Ketiga tim dari Semenanjung Maghribi tersebut menyingkirkan lawan-lawannya dengan susah payah di babak perempat final ketimbang tuan rumah yang dengan mudah membantai tetangga dekat mereka, Uni Emirat Arab, lima gol tanpa balas. Aljazair menunggu hingga babak adu penalti untuk menyingkirkan Maroko 5-3 setelah hanya bermain imbang 2-2 dalam waktu normal. Tunisia hanya unggul tipis 2-1 atas Oman, sedangkan Mesir harus melalui babak perpanjangan waktu untuk mengalahkan Jordania 3-1.

Namun di semi final, para wakil Afrika ini mulai menunjukkan kelasnya. Juara Piala Afrika edisi yang lalu, Aljazair sukses membungkam tuan rumah Qatar 2-1 lewat pertarungan dramatis. Djamel Benlamri membuka keunggulan bagi tim tamu di menit ke 59. Tuan rumah baru bisa menyamakan kedudukan di menit ke 90+7 lewat tandukan Mohammed Muntari. Gol kemenangan Aljazair hadir lewat kesalahan sang penjaga gawang. Tendangan penalti Mohammed  Belaili sempat berhasil digagalkan oleh kiper Saad Alsheeb, namun bola memantul kembali ke depan gawang dan di hadapan sang algojo penalti sehingga tak disia-siakan Belaili untuk memberikan gol kemenangan pada Aljazair.

Sementara di partai semifinal lainnya, dua tim Afrika lain, Mesir dan Tunisia saling berhadapan untuk merebut satu tiket ke final. Pertandingan berlangsung ketat namun tidak ada gol tercipta hingga laga memasuki menit-menit akhir. Gol kemenangan Tunisia justru lahir dari gol sundulan bunuh diri dari kapten Mesir, Amr El Soliya. Dua hasil tersebut mengindikasikan kualitas sepakbola Afrika yang masih sedikit lebih unggul ketimbang Asia.

JAGO TEBAK SKOR? COBA MAIN DI M88

 

Persaingan Ketat Sepakbola Afrika

Salah satu hal yang menjadi pembeda bagi kekuatan wakil Afrika dan Asia di ajang Piala Arab FIFA ini adalah lebih ketatnya persaingan di benua hitam tersebut. Di turnamen ini, meskipun tanpa sejumlah pemain pilar yang tengah berlaga di liga-liga Eropa, para wakil Afrika masih terlalu tangguh. Tiga tim semifinalis tersebut, Aljazair, Tunisia dan Mesir, plus Maroko tidak kesulitan melaju ke babak perempat final. Kecuali Mesir yang satu grup dengan Yacine Brahimi dan kolega, ketiganya lolos sebagai juara grup. Hanya Mauritania dan Sudan, yang notabene tim lemah di benua tersebut, gagal lolos dari babak penyisihan.

Persaingan ketat tim-tim Afrika bisa dilihat di babak kualifikasi Piala Dunia lalu yang tinggal menyisakan babak playoff. Kesenjangan antara tim-tim kuat dan tim-tim kelas dua tidak terlalu berbeda jauh. Lihat saja bagaimana Ghana susah payah melaju ke babak playoff menyingkirkan Afrika Selatan lewat tendangan penalti, atau Pantai Gading yang gagal meraih peluang lolos ke putaran final Piala Dunia mendatang karena takluk dari Kamerun di partai penentuan. Jangan lupakan juga Mali dan RD Kongo yang mengalami peningkatan performa menggantikan Angola dan Togo yang pernah lolos di Piala Dunia 2006 lalu. Masih ada juga Benin, Cape Verde, Guinea dan Burkina Faso yang sempat membuat ketar-ketir tim-tim mapan di babak kualifikasi Qatar 2022 yang lalu, atau Zambia yang pernah menjadi juara Afrika 2013 tanpa pemain bintang sekalipun.

Hal ini berbeda jika dibandingkan sepakbola Asia dimana tim-tim tangguh Arab Asia masih berkutat di Arab Saudi, Iran, yang menjadi langganan lolos Piala Dunia diikuti UEA dan Iraq yang pernah lolos sekali di ajang prestisius empat tahunan itu, masing-masing di edisi 1990 dan 1986. Satu-satunya tim yang mengalami perubahan pesat adalah Qatar yang juga memang berkepentingan untuk bersiap demi sukses menjadi tuan rumah Piala Dunia mendatang. Sementara Bahrain, Oman, Syria, Jordania dan Kuwait masih hanya sebatas tim kuda hitam. Dari kelima tim tersebut, hanya Kuwait yang pernah lolos ke Piala Dunia, namun itu pun sudah hampir 40 tahun lalu, tepatnya di Spanyol 1982. Hal ini lah yang perlu mendapat perhatian dari AFC untuk memperbaiki pemerataan kualitas tim-tim di wilayahnya.