Qatar Siapkan Pemusatan Latihan Enam Bulan Jelang Piala Dunia

Timnas Qatar tengah bersiap untuk mengadakan pemusatan latihan selama enam bulan sebelum kick off piala dunia 2022. Hal ini dilakukan mengingat kualitas tim mereka yang masih jauh dari rata-rata tim yang akan dihadapinya di babak penyisihan nanti. 

Qatar yang menjadi tuan rumah di edisi piala dunia kali ini tidak ingin hanya sekedar numpang lewat atau menjadi bulan-bulanan tim-tim lain. Pemusatan latihan panjang bisa menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi jurang pembeda kualitas tersebut di saat pemain di tim-tim lain masih harus berkutat dengan kompetisi di klubnya masing-masing. Diharapkan Hassan Al-Haydos dkk bisa lebih kompak dan solid sebagai tim saat putaran final dimulai. 

Pelatih Felix Sanchez sudah mengumpulkan 27 pemain dalam skuad untuk pemusatan latihan panjang ini dengan menjadwalkan sejumlah laga ujicoba baik dengan klub-klub Eropa maupun dengan tim-tim dari zona lain, seperti Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Fase awal pemusatan latihan telah dimulai di Spanyol sebelum berpindah ke Austria sejak bulan Juli lalu dan telah mengadakan enam laga ujicoba melawan klub Irlandia Utara, Linfield, Royal Antwrep Belgia, klub La Liga Mallorca dan tiga wakil Serie A Italia, Udinese, Lazio dan Fiorentina. Hasilnya cukup memuaskan dengan sekali kemenangan, empat hasil imbang dan sekali kalah. 

Selanjutnya mereka telah menjadwalkan setidaknya lima laga ujicoba lagi yaitu menghadapi Maroko, Ghana dan Jamaika dalam format turnamen. Berikunya, The Maroon, julukan timnas Qatar, akan menantang Kanada dan Cile pada bulan September nanti di Vienna. Kemungkinan besar, juara Piala Asia 2019 masih akan menjadwalkan satu lagi partai persahabatan melawan tim Eropa untuk mematangkan performa tim. 

Meski begitu, ide pemusatan latihan panjang ini menuai kritikan. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa langkah tersebut agak aneh karena pemusatan latihan tanpa bermain di laga kompetitif, setidaknya bagi para pemain, bisa menjadi bumerang. Mental pemain akan jadi korbannya karena berlatih terlalu lama dan hal ini bisa melelahkan anggota skuad. Namun, timnas Qatar tidak gentar dengan kritikan tersebut. 

JAGO TEBAK SKOR? MAIN DI 188bet

Peluang Qatar di Piala Dunia 2022

Program pemusatan latihan panjang tersebut bukan tanpa sebab. Peluang tim Marun untuk sekedar lolos dari babak penyisihan grup diatas kertas pun sangatlah kecil. Usut punya usut, ternyata program tersebut terinspirasi dari timnas Korea Selatan sebelum piala dunia 2002. Saat itu kesatria Taeguk menjalankan pemusatan latihan selama lima bulan sebelum partai pembuka dan hasilnya, Hong Myung-Bo dkk tampil mengejutkan dengan mampu melaju hingga babak semifinal menyingkirkan lawan-lawan tangguh di fase gugur, Italia dan Spanyol, meski diliputi oleh kontroversi. Hal itulah yang ingin dicapai tim asuhan Felix Sanchez di akhir tahun nanti, atau setidaknya bisa lolos dari fase grup. 

Menurut jadwal piala dunia 2022 yang telah dirilis, Almoez Ali dan kolega akan berhadapan dengan Ekuador di laga perdana , dilanjutkan oleh partai melawan tim Oranye Belanda dan terakhir menghadapi kampiun Afrika, Senegal. Jika ingin lolos, Qatar harus mampu meraup tiga poin di laga melawan Ekuador dan tim Singa Teranga. Dua pertandingan tersebut akan menjadi kunci seberapa jauh mereka mampu bertahan. Untuk partai melawan Belanda, agak sulit mengharapkan keajaiban. Mereka hanya bisa berharap mampu mencuri satu poin dari laga kedua babak penyisihan tersebut. Pasang taruhan anda untuk laga-laga seru timnas Qatar di Piala Dunia 2022 di link alternatif 188bet

Kiprah Debutan Tim Timur Tengah di Piala Dunia

Qatar adalah tim kesekian dari wilayah Timur Tengah yang akan menjalani debutnya di piala dunia 2022 nanti. Sepanjang sejarah penyelenggaraan ajang terakbar empat tahunan ini, sudah ada lima tim asal Timur Tengah zona AFC yang tampil di putaran final untuk pertama kali sejak edisi 1978 di Argentina hingga edisi 1994 di Amerika Serikat secara beruntun setelah Israel melakukannya di edisi 1970. Saat itu tim yang kini telah bergabung dengan UEFA tersebut belum bisa berbuat banyak meski sempat menahan Italia (0-0) dan Swedia (1-1), Israel dibungkam Uruguay 0-2.

Sedangkan, lima negara lain yang lolos berturut-turut pada rentang edisi 1978-1994 adalah Iran, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Dari kelimanya, hanya tim terakhirlah yang tampil lumayan mengejutkan dan apik justru saat menjalani debutnya di AS 1994. Saat itu, tim Elang Hijau yang ditangani oleh pelatih asal Argentina, Jorge Solari mampu lolos ke babak perdelapan final usai meraup dua kemenangan atas Maroko (2-1) dan Belgia (1-0) setelah sempat dibekuk Belanda 1-2 di partai perdana. Sayangnya Fuad Amin dkk digasak Swedia 1-3 di babak 16 besar. 

Sementara, empat tim lainnya gagal lolos dari fase grup. Iran hanya meraih satu poin saat tampil di Argentina 1978 hasil menahan imbang Skotlandia 1-1. Namun mereka jadi bulan-bulanan saat dibantai Peru 1-4 dan Belanda 0-3. 

Kuwait pun bernasib serupa di Spanyol 1982. Meski ditangani oleh Carlos Alberto Pareira yang kelak membawa tim Samba mengakhiri paceklik gelar di edisi 1994, negara yang jadi korban Perang Teluk kedua tersebut hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 saat bertemu Cekoslovakia, namun digulung Prancis 1-4 dan dibungkam Inggris 0-1. 

Negeri tetangganya, Irak dan Uni Emirate Arab malah tampil lebih jeblok di dua edisi berikutnya karena mereka gagal mendapatkan satu poin pun. Irak takluk di tiga laga dari Paraguay (0-1), Belgia (1-2) dan tuan rumah Meksiko (0-1) di tahun 1986. Sedangkan, UEA tak berdaya dihadapan tiga tim lainny setelah tersungkur lawan Kolombia (0-2), Jerman (1-5) dan Yugoslavia (1-4). 

Jadi, kira-kira bagaimanakah nasib tim Qatar nanti di putaran final? Akankah anak asuhan Felix Sanchez mampu mengikuti jejak Arab Saudi setidaknya di tahun 1994 atau bakal tenggelam dan bernasib sama dengan empat tim lainnya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.