Finalissima 2022, Antara Kongsi Baru UEFA dan Chiellini

Finallissima 2022 menjadi penanda awal kerjasama baru antara sepakbola Eropa dan Amerika Selatan, namun menjadi akhir bagi Giogio Chiellini. Laga tersebut menjadi laga terakhir bek veteran Italia itu sebelum gantung sepatu.

Finalissima yang berarti ‘Grand Final’ dalam bahasa Spanyol, merupakan satu laga yang mempertemukan juara Piala Eropa dan Copa America. Ide ini memunculkan partai ini kembali muncul menyusul isu penyelenggaraan piala dunia dua tahun sekali oleh FIFA yang mendapat banyak dukungan dari fans sepakbola dan konfederasi maupun sejumlah anggota di zona Asia, Afrika, Amerika Utara dan Oceania. Namun ide gila ini ditentang keras oleh dua konfederasi besar, UEFA dan CONMEBOL. Mereka pun ancang-ancang mendebat FIFA perihal rencana konyol tersebut sebelum akhirnya ide piala dunia dua tahun sekali tidak dilanjutkan.

UEFA dan CONMEBOL sendiri pun memperkuat kerjasamanya yang kian erat saat itu. Mereka sendiri telah menandatangani MoU di bulan Desember 2021 dan telah merencanakan sejumlah ajang, seperti Finalissima yang juga merupakan bagian dari pembukaan kantor kongsi dua konfederasi tersebut di London dan rencana menambah 10 anggota konfederasi sepakbola Amerika Selatan menjadi peserta Liga Antar Negara Eropa, UEFA Nations League mendatang. Stadion Wembley dipilih untuk menyelenggarakan partai perdana ini pada tanggal 1 Juni 2022 nanti. 86 ribu tiket laga tersebut telah ludes terjual.

JAGO TEBAK SKOR? MAIN DI M88

Finalissima Edisi Sebelumnya

Finalissima 2022 sebenarnya bukanlah yang pertama. Ada dua edisi sebelumnya yang pernah dipertandingkan di tahun 1985 dan 1993 dengan tajuk Piala Artemio Franchi. Ajang tersebut menjadi cikal bakal digelarnya Piala Konfederasi yang berlangsung sejak 1995 hingga 2017.

Edisi pertama dilangsungkan di Paris pada tahun 1985 antara kampiun Eropa 1984, Prancis dan jawara Copa America 1983, Uruguay. Saat itu Les Blues yang dimotori eks presiden UEFA yang kini sedang terjerat kasus korupsi, Michael Platini mampu membungkam Uruguay yang hadir dengan bintang mereka saat itu, Enzo Francescoli dengan skor 2-0. Striker PSG Dominique Rocheteau mencetak gol pembuka. Sedangkan penyerang Jose Toure memperbesar keunggulan tim Ayam Jantan.

Sedangkan edisi kedua tidak dilangsungkan di tahun 1989 antara juara Eropa 1988, Belanda dan juara Copa America 1989, Brasil karena laga dianggap tidak resmi oleh FIFA sehingga trio Belanda di AC Milan saat itu, Frank Rijkaard, Marco Van Basten dan Ruud Gullit tidak dizinkan ikut bertanding oleh klubnya. Laga pun dibatalkan.

Edisi berikutnya di tahun 1993 lah yang akhirnya diadakan sebelum ide penyelenggaraan Piala Konfederasi dimulai. Saat itu laga digelar di Mar del Plata, Argentina antara tim Tango, juara Copa Amerika 1991 dan Denmark, juara Piala Eropa 1992. Pertandingan berlangsung ketat dan seri 1-1 selama 120 menit. Tim Dinamit unggul terlebih dahulu lewat gol bunuh diri Nestor Craviotto sebelum Albiceleste menyamakan kedudukan lewat Claudio Caniggia. Argentina pun akhirnya yang mampu mengungguli Denmark lewat adu penalti dengan skor 5-4. Itulah gelar terakhir bagi Argentina yang dipersembahkan oleh mendiang Diego Maradona. Pasang taruhan anda untuk pertandigan Finalissima 2022 di link alternatif M88.

Akhir Perjalanan Karir Giorgio Chiellini

Sementara bagi Giorgio Chiellini, laga Finalissima 2022 mendatang menjadi ajang perpisahan bagi bek Juventus saat ini yang telah berusia 37 tahun. Pemain kunci Gli Azzurri saat menjuarai Piala Eropa 2020 lalu ironisnya tidak bisa lagi tampil di Piala Dunia setelah Italia gagal lolos ke putaran final via jalur playoff lalu.

Chiellini mengawali karirnya di Livorno sebelum pindah ke Fiorentina di musim 2004/05 sekaligus menjalani debutnya di Serie A. Performa mengkilapnya bersama La Viola membuatnya mendapat kesempatan dipanggil oleh timnas yang saat itu ditangani oleh Marcelo Lippi pada tahun 2004 dan direkrut Juventus di musim berikutnya. Bersama La Vecchia Signora, bek tengah yang kerap berpartner dengan Leonardo Bonucci ini ikut berjasa membawa klubnya meraih sembilan kali juara liga Italia Seri A berturut-turut sejak tahun 2012 hingga 2020, plus dua kali runner up Liga Champions 2015 dan 2017 sebelum ditaklukkan oleh Barcelona dan Real Madrid.

Sementara kiprahnya bersama Gli Azzurri di turnamen mayor diawali di Piala Eropa 2008. Ia tidak pernah absen tampil di kejuaraan antar negara-negara Eropa tersebut hingga 2020 yang lalu. Prestasinya tentu saja menjadi kampiun di edisi terakhir setelah hanya menjadi runner up di tahun 2012 setelah dibantai Spanyol 0-4. Sayangnya, di Piala Dunia ia hanya tampil di Afsel 2010 dan Brasil 2014 tanpa pernah mencicipi fase knockout karena Italia gagal melaju ke babak perdelapan final di dua edisi tersebut. Sepanjang karirnya di timnas, Chiellini telah mencetak delapan gol, namun hanya satu gol yang diciptakan di turnamen mayor, yaitu gol pembuka saat mengalahkan Spanyol 2-0 di babak 16 besar EURO 2016.